Rabu, 25 Mei 2011

ANNOUNCING ( SPEAKING )

EXAMPLE EXPRESSION ANNOUNCING
1. Attentinn, please.
2. Please give me your attention
3. Can I have your attention, please
4.I have an anouncement to make
5. I'd like to make an anuncement
6. Here's an anouncement from....
7. i'd like to announce that...

Curhatanku

Hari ini adalah hari yang melelahkan, padahal hanya mengajar satu kelas.mungkin kelelahan pada kondisi fisik dan mental membuatku tak bersemangat untuk menjalani aktivitas rutin hari ini.aku hanya butuh istirahat dan mengistirahatkan badanku yang lelah.Tapi aku akan berusaha untuk menyemangati diri untuk menjalani rutinitas hari ini. Mengajar dan bertemu dengan para siswa tercinta. Memberikan input berupa ilmu dan berinteraksi dalam kenyamanan. Semoga Tuhan masih akan selalu berbaik hati untuk memberikanku sedikit penyemangat untuk hari ini, setidajnya untuk tidak terlilhat lelah didepan para siswa sehingga mereka bisa lebih bersemangat untuk mengikuti kelas hari ini. Semangat Ites...semangat...ayo aku bisa!!!!!!!

Senin, 23 Mei 2011

IBU

Ibu...
Tak pernah ku lihat wajah lelahmu....
Tak pernah ku dengar keluh kesahmu..
Tak pernah kau harap balas jasaku
Tak pernah ku lihat tangismu
Tak pernah ku lihat sikap burukmu
Ibu...
Kau memberi kami inspirasi
Kau memberi kami motivasi
Kau memberi kami kasih sayang
Kau memberi kami kelembutan
Kau memberi kami kata-kata halus
Kau senantiasa memanjatkan doa untuk kami
Terima kasih ibu atas jasa-jasamu

Pentingnya pendidikan bagi wanita

 Wanita adalah surganya dunia. Tanpa ada wanita kaum laki2 tidak akan bersemangat menjalani hidup di dunia ini. Wanita diibaratkan bunga, ia menyimpan keindahan di dalam dan luarnya. keindahan luar wanita terletak pada fisiknya atau parasnya yang terkadang membuat kaum laki-laki jatuh dihadapannya. Tapi apakah cukup cantik dan indah secara fisik? Jawabannya adalah "tidak". Fisik adalah sesuatu yang tidak abadi, ketika nilainya berkurang di mata kita maka hilang sudah nilai estetikanya. Oleh karena itu wanita harus memiliki modal yang kuat berupa pendidikan yang cukup. Karena melalui pendidikan pola pikir manusia akan lebih baik dibandingkan yang tidak berpendidikan. secara kebahasaan juga sudah pasti lebih baik.Ketika ia memasuki masa pernikahan atau perkawinan dan memiliki keturunan / anak maka ia bertanggung jawab atas didikan anak-anaknya. Bagaimana mungkin si anak akan terdidik dengan baik sementara si ibu; yang bertanggung jawab atas pendidikan anaknya tidak memiliki pengalaman belajar atau pendidikan yang cukup untuk memberikan pengetahuan tambahan di rumah atau sekedar mengajari anak-anaknya Pekerjaan rumah dari sang guru.Oleh karena itu wanita perlu untuk mengenyam pendidikan yang cukup sebagai bekalnya kelak.

Minggu, 22 Mei 2011


Kucium tangannya yang mungkin tak pernah ada dalam firasatku kalau itu adalah pertemuan sekaligus ciuman tangan yang terakhirku pada mas Noe; lelaki yang baru satu dua bulan kukenal dari seorang teman. “Hati – hati ya mas....Selamat malam” ucapku sembari menutup gerbang rumah dan kemudian masuk ke rumah. Tak kuhiraukan lagi wajah ibu dan bapakku yang senantiasa menatapku dengan kasih sayang. Kurebahkan badanku disisi ranjang tempat tidur, kejadian tadi membuatku bingung dan tak mengerti, setega itu kah mas Noe terhadapku? Tiba – tiba airmataku meleleh ke pipi, akhirnya pecah sudah kesedihanku,tangisku tak terbendung lagi. Aku berusaha mengontrol diriku tapi aku tak bisa. Ternyata kejadian itu telah membuncah jiwaku, merobek nuraniku. Penyesalan demi penyesalan datang silih berganti, pertanyaan demi pertanyaan yang sudah tak sanggup ku jawab lagi, yang ada di benakku saat itu hanya satu kata “ kotor”,ya..aku merasa jijik pada diriku sendiri, hina, ternoda! Hanya karena ingin menikah aku harus merelakan tubuhku dinikmati oleh orang yang baru saja ku kenal. Tuhan...ada apa denganku?apakah keimananku sudah begitu tipis?tiba – tiba ku dengar bunyi telepon genggamku; Reni sohibku namun aku tak kuasa untuk mengangkat dering telephon genggamku, .....tiba-tiba saja mati. Tak lama kemudian terdengar suara nada pesan dan ku baca. “ are you ok, Sany ? Udah ngapain aja?” Pesan itu membuatku sedikit tersenyum miris.Setiap kali pertanyaan polos dari sobatku tak pernah kuasa aku berdusta akhirnya ku balas pesan itu “ gue udah ML”. Kuberanikan diri untuk berkata jujur, pikiranku sudah tak karuan, yang ada dibenakku aku ingin berteriak!! Tiba-tiba telephon genggamku bunyi lagi, ku beranikan diri untuk mengangkatnya.
Reny : “Are you serious?”
Sany : “Iya ( sembari tersedu – sedu )”
Reny : “ Koq bisa?”
Sany : “Please jangan tanya kenapa?”( sembari menutup telepon)
Rasanya sedikit lega, tiba-tiba bayangan kejadian tadi silih berganti ada di benakku.Tuhan,hentikan!!!!Kalau saja aku tak sebodoh tadi mungkin hal itu tidak akan terjadi.
Tiba-tiba aku merasa ada yang mengguncang-guncangkan tubuhku, tapi aku sudah tak kuat untuk bangun dan memegang tangan itu. Ku dengar tangisan pecah dalam ruangan itu dengan wajah bingung kupandangi satu persatu wajah kakak-kakaku, ibuku yang terbaring di atas ranjang tempat ia sehari-hari menghabiskan sisa hidupnya memandangiku dengan tatapan kosong, bapakku dengan wajah yang sedikit bingung, wajahnya penuh dengan guratan –guratan menandakan usianya yang sudah tua, sanak dan kerabatku berkumpul dalam satu ruangan. Kulihat ada sesosok jasad yang ku kenal, itu jasadku ya itu jasadku yang bersimbah darah!!!!
Pukul 21.35
“sany, mau gak ada laki- laki yang mencari istri., punya rumah sendiri, punya bisnis di mana-mana”pesan Rony.
“ok”balasku
“Aku kasih no. Hape kamu ya?. Besok bawa foto ya” kata Rony
“ Foto siapa?” balasku dengan setengah bingung
“Nenek lo!”ucap Rony
“sipp”kataku dengan nada mantap
Betapa senang hatiku, akhirnya doaku terkabul mendapat kenalan baru yang mudah-mudahan menjadi suamiku kelak.
Pukul 08.15
Tiba – tiba ada pesan di telephon genggamku dari no. Asing yang tak kukenal sebelumnya.
“Assalamualaikum, saya Noe2 salam kenal ya bu Sany”
“Wassalamualaikum, iya pak. Salam kenal juga”
Akhirnya perkenalan itu berlanjut, hampir setiap hari mas Noe selalu mengirim pesan hanya untuk sekedar mengucapkan selamat pagi, sudah makan belum?. Hari-hariku menjadi cerah kembali, aku merasa menemukan orang tepat untuk menghabiskan hidupku bersamanya.Merenda hari – hari yang indah, seolah tanpa ada lagi beban.Lengkap sudah hidupku, mendapatkan besiswa S2, mendapatkan calon suami, akhirnya keinginan orang tuaku terkabul.
Minggu, Pukul 12.30
“Mas, bisa datang gak minggu depan ke rumah, orang tuaku ingin kenal sama kamu”
“Aku belum siap, nti aja kalau aku sudah siap”
“Cuma kenalan terus ngobrol koq”
“Iya tapi aku belum siap mental dik”
Firasatku mulai tidak baik tentang mas Noe, setelah kejadian itu sikapnya mendadak agak dingin dan berubah. Dia mulai jarang sms apalagi telephon. Aku berusaha positif thinking, mungkin ia sibuk hingga tak sempat untuk say hello. Aku berusaha untuk tetap sabar menanti, berusaha menelephonnya walaupun tak pernah di angkat. Aku berusaha untuk men-sugesti diriku agar tetap berpikiran positif tentangnya.
Perlahan – lahan aku mulai tahu status mas Noe yang ternyata duda, punya seorang putri. Ia ditinggal kabur istrinya hingga membuatnya trauma akan pernikahan dan memutuskan untuk mengakhiri rumah tangganya. semangatku makin menurun tapi aku berusaha untuk tetap menjaga hubungan demi keinginan orang tuaku untuk menikah.
 Siang itu dia mengirim pesan ke telephon genggamku dan mengajakku untuk berkencan dan kuterima ajakan itu dengan senang hati. Tak pernah ku fikirkan kalau ternyata ia memiliki rencana yang tidak baik. Yang ada dalam benakku hanyalah kencan antara dua orang kekasih; berpegangan tangan dan berciuman selayaknya dua insan yang sedang memadu kasih.Tak pernah sedikitpun aku berpikiran untuk lebih dari itu.
Tiba hari yang kunanti, kami janjian untuk ketemuan ditempat biasa. Dia menjemputku menggunakan sepeda motornya menuju rumahnya.Sepanjang jalan kami bercanda berdua. Kupeluk erat tubuh mas Noe  tanpa prasangka sedikitpun. Setengah perjalanan, kami mampir di sebuah minimarket dan membeli dua kaleng soft drink dan beberapa roti dan snack dan memulai perjalanan kembali.
Sepanjang perjalanan ke rumahnya mas Noe tak henti- hentinya menggenggam tanganku sembari bercerita tempat ia bekerja hingga keadaan rumahnya. Yang ada di pikiranku saat itu aku masuk ke rumahnya selayaknya tamu, ngobrol sembari bercerita tentang diri masing-masing hingga larut malam. Ternyata semua itu hanya imajinasiku saja.
Tiba di sebuah jalan setapak pinggir kebun ia menghentikan kendaraannya, sembari mematikan mesin motornya ia menunjuk ke arah sebuah rumah yang tak jauh dari kebun tersebut seraya berkata “ itu rumahku dik, nti kamu lewat jalan ini dan tunggu di dekat pohon pisang itu, nanti aku buka pintu belakang kamu masuk lewat situ”
Jantungku serasa copot mendengar instruksi mas Noe seolah tak percaya apa yang baru saja ku dengar. Sedikit menyesal karena aku telah menuruti kata-katanya tanpa aku tahu lebih jauh tujuannya. Akhirnya ku ikuti instruksi mas Noe karena perasaan cintaku padanya. Ia gandeng tanganku menuju rumah itu melewati kebun dan sampai dibelakang rumahnya. Bergidik bulu romaku, baru kali ini aku diajak berkencan harus melewati kebun. Kemudian ia kembali ke jalan setapak tadi untuk mengendarai motornya dan memasuki halaman rumah mungil berwarna merah muda.Tak lama ia muncul dari pintu belakang rumahnya, ia tuntun aku hingga pintu masuk ke arah dapur rumah. Sembari menciumku berkali-kali ia berkata”trauma ya dik? Baru kali ini begini?” aku hanya menganggukkan kepala dan memandangnya dengan mesra.
Diajaknya aku masuk dan duduk diatas karpet diruang tengah rumahnya. Kuliahat ada foto-foto anaknya terpampang diatas dinding meja TV. Wajahnya yang polos tapi tampak penuh keceriaan, mirip sekali dengan mas Noe. Kupandangi sekeliling ruangan itu, ada beberapa paku yang menancap didinding yang mungkin bekas tempat menempelnya pigura foto keluarga kecil mas yang dulu.
Mas Noe masuk ke salah satu kamar di rumah itu,mematikan lampu ruang depan dan tiba-tiba ia bertelanjang dada. “Adik, nginep ya..kita nikmati malam ini.besok pagi aku antar pulang”
“Jangan mas, ibu dan bapak gak ada yang jagain” ucapku sedikit kawatir
“Ya udah dech” ucapnya dengan nada kecewa
Tiba – tiba ia mendekatiku dan tidur disampingku, ia rengkuh badan ku hingga setengah menaiki badanku. Tiba-tiba ia mencium bibirku berkali-kali hingga membuatku bergidik dan...terjadilah apa yang selama ini aku khawatirkan. Ia terus memaksaku, berkali-kali juga aku menolaknya dengan berbagai alasan setiap kali ia lakukan itu hanya kalimat istighfar yang keluar dari bibirku sembari membayangkan betapa kecewanya ibuku yang tengah terbaring tak berdaya, bapakku yang sudah mulai tua renta ketika tahu aku anaknya yang tak tahu diri ini telah menodai dan mencoreng nama keluarga. Tuhan pasti marah dengan perbuatanku, aku kotor..kotor!!!! dan mungkin tak terampuni!
Setelah ia puas, akhirnya ia mengenakan pakaiannya dan menyuruhku untuk mengenakan pakaianku dan menyuruhku pulang.
”Mas, please nikahi aku, kita sudah berbuat nista dan dosa” pintaku dengan suara parau.
Dengan santainya ia menjawab “Dik, aku belum cerai dengan istriku.Dia tidak mau menanda tangani surat itu. Aku sudah berkali-kali meminta. Aku sudah bosan!” ucapnya dengan nada agak tinggi.”
 Lalu bagaimana dengan aku?”ucapku dengan nada kesal.
”sabar ya, kita jalani saja dulu, kalau memang jodoh aku akan bawa kamu masuk rumah ini melalui pintu itu”( sembari menunjuk pintu ruang tamu)
Ya  Tuhan, aku telah berbuat bodoh. Seketika aku merasa manusia paling bodoh di dunia ini, aku anak kebanggaan orang tua, anak perempuan pertama yang mendapat beasiswa S2 tapi aku tidak mampu menggunakan akal pikiran sehatku.
“Mas, aku gak tahu setelah ini apa aku masih mau berhubungan dengan laki-laki”ucapku sedih
“ Jangan begitu dik, kamu harus tetap lanjutkan hidupmu”katanya sembari memandangiku lekat-lekat
Aku hanya bisa sumpah-serapah dalam hati mendengar setiap ucapannya yang santai tanpa dosa.Terkutuklah aku!!!!
Ku kenakan pakaianku satu persatu dengan langkah gontai aku keluar dari rumah terkutuk itu diiringi dengan langkah mas Noe di belakangku. Di antarnya aku pulang. Sepanjang perjalanan aku berusaha untuk tegar, melayani setiap kalimat – kalimat pertanyaan yang diucapkan mas Noe. Aku berusaha untuk tidak memikirkan perbuatan nista yang telah kami lakukan. Dalam benakku hanya harapan suatu saat Tuhan mengabulkan pintaku untuk menikah dengannya, ya, aku harus berjuang untuk memilikinya.